Logo islami.or.id

Kita Masuk Surga Bukan Karena Amal, tetapi Karena Rahmat Allah

Oleh Redaksi islami.or.idArtikel
rahmat Allah
ilustrasi

Setiap muslim tentu berharap bisa masuk surga. Karena itu kita berusaha memperbanyak amal saleh: shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, membantu sesama, berdakwah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Namun ada satu hal penting yang perlu kita pahami: kita tidak masuk surga semata-mata karena amal yang kita kerjakan, tetapi karena rahmat Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ
“Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.”

Para sahabat bertanya:

“Termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

لَا، وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
“Tidak, termasuk aku juga, kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku karunia dan rahmat-Nya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bukan berarti amal saleh tidak penting. Justru amal saleh tetap wajib kita kerjakan. Namun amal bukanlah “harga” yang mampu membeli surga. Amal adalah jalan dan sebab untuk mendapatkan keridaan serta rahmat Allah.

Amal Kita Terbatas, Surga Tidak Terbatas

Coba kita renungkan.

Misalnya seseorang hidup selama 60 tahun. Ia mulai rajin beribadah sejak usia 20 tahun. Berarti ia memiliki sekitar 40 tahun untuk memperbanyak amal saleh.

Jika benar surga adalah balasan yang dibeli semata-mata dengan amal, apakah ia hanya pantas tinggal di surga selama 40 tahun?

Tentu tidak.

Orang-orang beriman akan tinggal di surga selama-lamanya.

Allah berfirman:

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
“Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

(QS. At-Taubah: 100)

Di sinilah kita memahami betapa besarnya rahmat Allah.

Amal manusia terbatas.

Usia manusia terbatas.

Kemampuan manusia juga terbatas.

Tetapi Allah memberikan balasan yang tidak terbatas: surga yang kekal selama-lamanya.

Karena itu, tidak mungkin kita merasa bahwa amal yang sedikit dan terbatas itu cukup untuk membayar seluruh kenikmatan surga.

Bahkan Kemampuan Beramal Adalah Karunia Allah

Ada hal yang lebih dalam lagi.

Ketika seseorang bisa rajin shalat, bisa bersedekah, mampu membaca Al-Qur’an, mampu meninggalkan maksiat, dan berusaha istiqamah dalam kebaikan, jangan sampai muncul perasaan:

“Aku memang orang baik.”

“Aku memang lebih saleh.”

“Aku memang lebih kuat imannya.”

Sebab sebenarnya, kemampuan kita untuk berbuat baik pun merupakan karunia dari Allah.

Allah berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun di antara kalian menjadi bersih selama-lamanya.”

(QS. An-Nur: 21)

Ada orang yang tubuhnya sehat tetapi berat sekali melangkahkan kaki ke masjid.

Ada orang yang memiliki waktu luang tetapi jarang membuka Al-Qur’an.

Ada orang yang hartanya berlimpah tetapi sulit bersedekah.

Sementara ada orang lain yang hatinya mudah tergerak untuk beribadah.

Siapa yang menggerakkan hati itu?

Allah.

Siapa yang memberikan hidayah?

Allah.

Siapa yang membuat kita mencintai kebaikan?

Allah.

Maka ketika kita mampu menjadi orang yang lebih baik, jangan buru-buru merasa bahwa itu semata-mata karena karakter kita yang baik.

Bisa jadi justru karena Allah sedang memberikan hidayah dan rahmat-Nya kepada kita.

Kisah Ahli Ibadah Selama 500 Tahun

Ada sebuah kisah yang cukup terkenal tentang seorang ahli ibadah yang beribadah kepada Allah selama 500 tahun di sebuah pulau terpencil.

Dalam kisah tersebut, seorang hamba menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Ketika hari perhitungan tiba, Allah memerintahkan agar ia masuk surga dengan rahmat-Nya.

Namun hamba tersebut merasa bahwa ibadahnya selama ratusan tahun sudah cukup untuk membuatnya masuk surga karena amalnya.

Kemudian salah satu nikmat Allah, yaitu nikmat penglihatan, ditimbang dengan seluruh ibadahnya.

Ternyata ibadah selama 500 tahun itu tidak mampu menyamai satu nikmat penglihatan yang Allah berikan.

Akhirnya hamba itu menyadari bahwa ia tetap membutuhkan rahmat Allah.

Riwayat tentang ahli ibadah 500 tahun ini memiliki pembahasan dalam sisi kekuatan sanadnya, sehingga tidak sebaiknya dijadikan sebagai dalil utama. Namun makna besarnya tetap sesuai dengan prinsip yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih: nikmat Allah begitu besar dan amal manusia tidak akan mampu membalas seluruh nikmat tersebut.

Allah berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”

(QS. An-Nahl: 18)

Coba kita hitung.

Berapa harga sepasang mata?

Berapa harga pendengaran?

Berapa harga kesehatan?

Berapa harga udara yang kita hirup setiap hari?

Berapa harga jantung yang terus berdetak tanpa kita perintah?

Dan yang paling besar, berapa harga nikmat iman dan Islam?

Kita tidak akan mampu menghitungnya.

Kalau Begitu, Untuk Apa Kita Beramal?

Mungkin ada yang bertanya:

“Kalau masuk surga karena rahmat Allah, lalu untuk apa kita bersusah payah beramal?”

Jawabannya sederhana: karena amal saleh adalah salah satu sebab datangnya rahmat Allah.

Allah sendiri berfirman:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Masuklah kalian ke dalam surga karena apa yang dahulu kalian kerjakan.”

(QS. An-Nahl: 32)

Ayat ini tidak bertentangan dengan hadis bahwa seseorang masuk surga karena rahmat Allah.

Amal adalah sebab.

Sedangkan rahmat Allah adalah yang membuat amal itu diterima dan mengantarkan seseorang menuju surga.

Kita bisa mengibaratkannya seperti ini:

Amal adalah jalan yang kita tempuh, tetapi rahmat Allah-lah yang mengantarkan kita sampai ke tujuan.

Karena itu, memahami besarnya rahmat Allah tidak boleh membuat kita malas beramal.

Justru sebaliknya.

Semakin kita sadar bahwa Allah Maha Pengasih, semakin besar semestinya keinginan kita untuk menaati-Nya.

Jangan Merasa Lebih Saleh dari Orang Lain

Pemahaman tentang rahmat Allah juga penting agar kita terhindar dari penyakit hati bernama ujub, yaitu merasa kagum dan bangga terhadap kesalehan diri sendiri.

Ketika melihat orang lain masih melakukan maksiat, jangan sampai hati kita berkata:

“Syukurlah aku tidak seperti dia.”

“Aku jauh lebih baik.”

“Aku lebih dekat kepada Allah.”

Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir kehidupan seseorang.

Orang yang hari ini jauh dari Allah bisa saja esok bertobat dengan sungguh-sungguh.

Sebaliknya, orang yang hari ini rajin beribadah belum tentu mampu mempertahankan keistiqamahannya tanpa pertolongan Allah.

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”

(QS. An-Najm: 32)

Semakin banyak amal kita, seharusnya semakin rendah hati.

Sebab kita sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, kita belum tentu mampu melakukan semua kebaikan itu.

Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Pemahaman ini juga menjadi kabar gembira bagi orang-orang yang merasa memiliki banyak dosa.

Ada orang yang berkata dalam hati:

“Dosaku terlalu banyak.”

“Masa laluku terlalu buruk.”

“Apakah Allah masih mau mengampuniku?”

Allah sendiri menjawab:

لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

(QS. Az-Zumar: 53)

Selama pintu tobat masih terbuka, tidak ada alasan untuk berputus asa.

Mungkin masa lalu kita penuh kesalahan.

Mungkin ibadah kita masih sedikit.

Mungkin kita sering jatuh dalam dosa yang sama.

Tetapi jangan berhenti kembali kepada Allah.

Bertobatlah.

Perbaiki shalat.

Mulailah membaca Al-Qur’an.

Belajarlah bersedekah.

Tinggalkan maksiat sedikit demi sedikit.

Dan teruslah meminta kepada Allah agar diberi kekuatan untuk istiqamah.

Amal Sedikit Jangan Membuat Putus Asa, Amal Banyak Jangan Membuat Sombong

Seorang mukmin hidup di antara rasa takut dan harapan.

Ketika amalnya sedikit, ia tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Ketika amalnya banyak, ia tidak merasa dirinya pasti selamat.

Ia terus beramal sambil berharap kepada Allah.

Ia terus beribadah sambil memohon agar amalnya diterima.

Ia terus bertobat karena sadar bahwa dirinya penuh kekurangan.

Karena persoalan terbesar bukan hanya:

“Berapa banyak amal yang sudah kita lakukan?”

Tetapi:

“Apakah amal itu diterima oleh Allah?”

Bisa jadi seseorang melakukan amal yang besar tetapi hatinya dipenuhi kesombongan.

Sebaliknya, bisa jadi ada seseorang melakukan amal yang tampak sederhana, tetapi dilakukan dengan ikhlas sehingga sangat besar nilainya di sisi Allah.

Karena itu, jangan pernah merasa:

“Aku pantas mendapatkan surga karena amalanku.”

Lebih baik kita memohon:

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada amalanku. Ampuni kekuranganku, terimalah amal yang sedikit ini, dan masukkanlah aku ke dalam surga karena rahmat-Mu.”

Penutup

Kita memang diperintahkan untuk beramal saleh sebanyak-banyaknya.

Kita harus menjaga shalat, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, berdakwah, dan meninggalkan maksiat.

Tetapi di balik semua amal itu, hati kita harus tetap menyadari satu hal:

Kita bisa beramal karena pertolongan Allah, amal kita diterima karena karunia Allah, dan kita berharap masuk surga karena rahmat Allah.

Maka jangan sombong karena amal.

Jangan meremehkan orang lain karena merasa lebih saleh.

Dan jangan pula berputus asa karena merasa terlalu banyak dosa.

Teruslah beramal.

Teruslah bertobat.

Teruslah meminta hidayah.

Dan teruslah berharap kepada rahmat Allah.

Sebab pada akhirnya kita bukanlah hamba yang sedang “membeli” surga dengan amal kita.

Kita hanyalah hamba yang berusaha menaati Allah sambil berharap Dia berkenan menerima amal kita dan memasukkan kita ke dalam surga dengan rahmat-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bagikan artikel ini

Bermanfaat untuk orang lain?